PACITAN PENUH WISATA

PACITAN PENUH WISATA

Rabu, 02 Juni 2010

UPACARA CEPROTAN


Upacara adat Ceprotan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Pacitan khususnya masyarakat Desa Sekar Kecamatan Donorojo selalu dilaksanakan tiap tahun pada bulan Dzulqaidah (Longkang), Hari Senin Kliwon. Acara ini dimaksudkan untuk mengenang pendahulu Desa Sekar yaitu Dewi Sekartaji dan Panji Asmorobangun melalui kegiatan bersih desa. Upacara ini diyakini dapat menjauhkan desa tersebut dari bala dan memperlancar kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama bagi kebanyakan penduduknya. Lokasi upacara Ceprotan yaitu di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Kota Pacitan, dan jaraknya kurang lebih 40 km ke arah barat dari pusat kota.
Upacara adat ini dimulai dengan pengarakkan kelapa muda yang digunakan sebagai alat “ceprotan” menuju tempat dilaksanakannya upacara yang biasanya berupa tanah lapang. Kelapa-kelapa ini ditempatkan pada keranjang bambu dengan anyaman yang jarang-jarang dan dibawa oleh pemuda setempat.
Sebelum acara dimulai, tetua adat membacakan doa-doa. Upacara dilanjutkan dengan ditampilkannya sendratari yang menceritakan antara pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Kemudian pemuda-pemuda ini dibagi menjadi dua kubu yang ditempatkan secara berseberangan. Keranjang berisi kelapa muda yang telah dikuliti dan direndam selama beberapa hari agar tempurungnya melunak, diletakkan di depan masing-masing anggota kubu yang telah berjajar dengan posisi menghadap ke arah kubu lawan. Antar kedua kubu ini diberi jarak beberapa meter sehingga mereka tidak berhadapan secara langsung dan di antara mereka diletakkan sebuah ingkung atau ayam utuh yang dipanggang.
Setelah semuanya siap, anggota dari kedua kubu mulai saling melempar kelapa muda yang berada di depan mereka. Setiap orang yang terkena lemparan hingga kelapa yang dilemparkan pada mereka pecah dan airnya membasahi tubuhnya dianggap sebagai orang yang kelak akan mendapatkan rezeki yang melimpah.
Ayam panggang yang diletakkan di tengah-tengah arena tidak diperebutkan melainkan disimpan untuk dimakan bersama-sama pada akhir acara. Setelah semua kelapa habis, kegiatan saling melempar kelapa yang dinamakan ceprotan ini diakhiri dengan pembacaan doa kembali.
Belakangan, dalam festival budaya yang digelar tiap tahun dalam rangka menyambut ulang tahun Kabupaten Pacitan, pada penutupan acara ceprotan ini juga dilakukan tarian-tarian singkat yang mengiringi kepergian pemuda-pemuda yang telah melakukan ceprotan.
Sendratari yang ditampilkan pada awal acara menceritakan tentang pertemuan antara Ki Godeg dengan Dewi Sekartaji. Menurut kepercayaan masyarakat Donorojo, Ki Godeng merupakan orang pertama yang membuka atau istilahnya “membabad” wilayah itu yang semula berupa hutan belantara. Ki Godeng merupakan nama lain dari Panji Asmorobangun, seseorang yang sakti mandraguna dari daerah Kediri. Karena keuletan dan keahlian dari Ki Godeg tersebut, wilayah yang semula berupa hutan belantara berhasil diubah menjadi lahan pertanian.
Suatu ketika, beliau bertemu dengan dua orang wanita yang sedang menempuh perjalanan. Kedua wanita tersebut sebenarnya adalah titisan dewi yaitu Dewi Sukonadi dan Dewi Sekartaji. Mereka beristirahat di wilayah yang telah dibabad Ki Godeng. Salah satu dari dewi tersebut yaitu Dewi Sekartaji merasa kehausan. Karena merasa kasihan, Ki Godeg menawarkan diri untuk mencarikan minuman bagi dewi tersebut.
Dewi Sekartaji kemudian meminta air kelapa muda untuk mengobati dahaganya. Sayangnya, di wilayah tersebut tidak terdapat pohon kelapa sama sekali. Namun demi mememenuhi permintaan dari Dewi Sekartaji, Ki Godeg melakukan matekaji atau menggunakan ilmunya untuk masuk ke dalam tanah guna mencari kelapa muda di tempat yang cukup jauh. Tempat dimana Ki Godeg masuk ke dalam tanah berubah menjadi sumber mata air, kemudian tempat beliau keluar dari tanah juga menjadi mata air yaitu di daerah Wirati, Kecamatan Kalak. Mata air tersebut dinamakan Kedung Timo. Setelah beliau menemukan pohon kelapa, Ki Godeg memanjat dan mengambil kelapa mudanya, lalu kembali lagi ke tempat semula dimana Dewi Sekartaji menunggu beliau. Tempat beliau keluar dari tanah saat kembali juga menjadi mata air. Dewi Sekartaji yang kehausan segera meminum air dari kelapa muda yang dibawakan oleh Ki Godeg.
Sisa dari air kelapa muda yang tidak habis diminum oleh Dewi Sekartaji ditumpahkannya di tempat dewi tersebut berdiri. Air kelapa yang menyentuh tanah seketika menjadi sumber air yang hingga sekarang dikenal sebagai Sumber Sekar. Dewi Sekartaji kemudian berpesan pada Ki Godeg, jika kelak tempat tersebut menjadi pemukiman agar dinamai Desa Sekar. Untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan, disuruhnya menggunakan cengkir yang dalam Bahasa Indonesia adalah kelapa muda. Hari terjadinya peristiwa tersebut adalah Senin Kliwon pada bulan Longkang atau Dzulqaidah.
Kelapa muda yang digunakan sebagai alat utama dalam upacara ini merupakan cengkir yang dimaksud oleh Dewi Sekartaji dalam legenda di atas. Makna simbolik dari cengkir ini terletak pada kepanjangan dari cengkir menurut orang Jawa yaitu ceng-cenge pikir. Jadi, merujuk dari pesan Dewi Sekartaji bahwa untuk pemuda yang ingin ngalap berkah untuk mencari sandang pangan, disuruhnya menggunakan cengkir atau ceng-cenge pikir artinya mengandalkan daya pikir atau otaknya.
Kemudian mengenai acara saling melempar kelapa muda, mengandung makna saling membantu dalam mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidupannya. Ayam bakar utuh (ingkung) yang berada di tengah arena upacara menyimbolkan rejeki yang harus di usahakan atau dicari oleh para pemuda
Selain nilai kebudayaan dan sejarah, upacara adat Ceprotan sekaligus legenda yang melatarbelakanginya sarat dengan nilai-nilai lain yang harus kita cermati dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama mengenai kegigihan Panji Asmorobangun atau yang dikenal sebagai Ki Godeg dalam usaha-usahanya membuka dan membangun suatu wilayah di Pacitan yang kini dikenal dengan nama Desa Sekar, Kabupaten Donorojo menjadi daerah pertanian. Daerah ini sebenarnya merupakan daerah yang tandus mengingat kandungan kapur dalam tanahnya yang cukup tinggi. Namun kini wilayah tersebut menjadi salah satu penghasil padi dan kelapa yang cukup diperhitungkan di Kabupaten Pacitan.
Kedua mengenai kebaikan hati beliau menolong orang yang kesusahan yaitu dalam legenda ini Dewi Sekartaji, serta pengorbanan yang dilakukannya. Kemudian mengenai pesan yang disampaikan oleh Dewi Sekartaji pada generasi muda yaitu untuk mengandalkan pikirannya dalam mencari penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidup. Pesan ini sangat perlu kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini. Sudah seharusnya generasi muda membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan serta keterampilan agar dapat mencapai kesejahteraan bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
Nilai lainnya yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah mengenai ingkung yang di sediakan di tengah arena. Ingkung ini memang seolah menjadi sentral dari Upacara Ceprotan karena melambangkan rezeki yang dicari. Namun ingkung tersebut tidak diperebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa kita memang harus berusaha optimal dalam meraih apa yang kita inginkan tetapi jangan sampai melanggar hak dan kepentingan orang lain.
Doa pada awal dan penutupan upacara juga memiliki nilai tersendiri, bahwa kita harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang kita lakukan dengan doa. Dengan doa yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan kita terhadap Sang Pencipta, kita harus meyakini jika usaha yang kita lakukan sedah maksimal, Tuhan akan membalasnya dengan hasil memuaskan.
E. Prospek Nilai dalam Kehidupan Nasional
Nilai-nilai dalam Upacara Adat Ceprotan tersebut tentu memiliki prospek dalam kehidupan nasional. Pertama adalah masalah keyakinan kita terhadap Tuhan. Kegiatan doa pada awal dan penutupan upacara yang melambangkan pengharapan dan kepasrahan kita terhadap Sang Pencipta, mengingatkan bahwa kita harus memulai dan mengakhiri setiap usaha-usaha yang kita lakukan dengan doa.
Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia yang terkena imbas globalisasi dan meningkatnya tekanan hidup terutama di bidang ekonomi, kebanyakan menjadi semakin sekuler. Mereka bersusah payah mengejar tujuannya namun lupa berdoa untuk meminta bantuan, rahmat, serta restu dari Sang Penguasa Alam. Saat mereka mendapatkan apa yang dicita-citakan, mereka lupa bersyukur pada Kekuatan Tak Terlihat yang menuntun dan memudahkan jalan mereka dalam proses pencapaian tersebut. Sedangkan jika mereka gagal, orang-orang tersebut akan menggerutu pada Tuhan. Mereka mengalihkan kekecewaannya dan mencoba menutupi kegagalan yang sebenarnya bersumber dari diri mereka sendiri dengan menyalahkan Penciptanya.
Selanjutnya mengenai sikap gemar menolong yang rupanya saat ini ikut menghilang dalam diri bangsa Indonesia bersama hilangnya butir-butir Pancasila dari bagian resmi lima sila tersebut dan dihapuskannya pembelajaran mengenai butir-butir Pancasila dalam kurikulum resmi pelajar. Manusia-manusia yang menjadi komponen bangsa ini tampaknya lebih senang saling menuding atas kerusakan-kerusakan serta kesulitan di berbagai sektor yang dialami oleh negara. Jika sikap saling menolong ini saja sudah langka, apalagi pengorbanan yang dibutuhkan untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik. Saat ini hal tersebut seperti sebuah fairy tale atau impian belaka.
Kemudian intisari dari upacara tersebut yaitu mengenai cengkir atau ceng-cengan pikir. Bangsa ini membutuhkan otak-otak yang siap diperas untuk memikirkan banyak hal demi terwujudnya solusi konkret demi terciptanya Indonesia yang lebih baik. Generasi muda yang menjadi fokus utama, harus giat menuntun ilmu pengetahuan, bukan hanya untuk formalitas, gelar, ataupun merencanakan masa depannya sebagai keryawan melainkan lebih dari itu yaitu untuk mewujudkan lapangan-lapangan kerja, inovasi-inovasi dan kreativitas tingkat tinggi yang diperlukan untuk mengangkat kesejahteraan, harkat, serta martabat bangsa ini.
Lalu mengenai ingkung yang telah disinggung beberapa kali. Detail kecil ini juga menyumbangkan nilai yang berprospek dalam kehidupan nasional. Kita diingatkan agar dalam usaha-usaha pencapaian tujuan, kita tidak boleh saling sikut. Fenomena negatif ini telah mewarnai berbagai aspek kehidupan sehari-hari di Indonesia. Mulai dari bidang politik, sosial, ekonomi, bahkan agama.
Secara utuh, upacara ini mengajak generasi penerus bangsa ini untuk menengok ke belakang, melihat dan meneladani apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita dan menerapkannya dalam kehidupan masa kini. Dimulai dari perilaku pribadi hingga sikap berbangsa dan bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar